Monday, March 29, 2010

who..? chapter V (investigative reporting assignment)

BAB V

Penghasilan Penjaga Kamar Mayat yang Seperti Durian Runtuh

Mendung yang tidak merata disertai kilat dan gemuruh petir yang seolah-olah menyambut kedatangan kami di bangunan tua RSCM pada minggu siang.

Kami langsung menuju ruang jenazah RSCM dan menemui 2 orang penjaga ruang jenazah RSCM yang pada saat itu kebetulan sedang beristirahat. Terlihat Bapak S. Bambang yang langsung kami temui adalah salah satu penjaga ruang jenazah RSCM yang sudah berumur 27 tahun dan berasal dari Yogyakarta yang tinggal di Bekasi. Saat kami tanya alasan mengapa bekerja di RSCM, dia menjawab “ kalau saja ada pekerjaan lain, pengennya sih jadi karyawan. Kalau bukan tuntutan perut saya, sudah pindah dari dulu”. Saat kami bertanya tentang jual-beli organ tubuh jenazah, beliau tidak mengetahui secara jelas bagaimana proses jual-belinya karena ini adalah urusan pihak administrasi ruang jenazah RSCM. Tapi bapak Bambang pernah satu kali memergoki pihak administrasi sedang melakukan transaksi jual-beli organ pada jam 12 malam. Dan pada pukul 2 dini hari, ada salah satu jenazah yang dibawa keluar dengan mobil. Ketika petugas administrasi tersebut ditanya oleh bapak Bambang, petugas administrasi tidak menjawab dan hanya berkata “ini tamu (mayat) mau dibawa keluar”. Kasus jual-beli ini ada kaitannya antara dokter dengan si pembeli secara pribadi. Biasanya yang dijual adalah organ-organ yang kodisinya masih bagus dan masih berfungsi dengan baik seperti jantung, ginjal,dan organ dalam lainnya dan diambil dari jenazah yang identitasnya tidak diketahui.

Lain halnya dengan bapak Junaedi yang berusia 42 tahun dan tinggal di Rawamangun. Beliau bercerita tentang pasien yang sedang membutuhkan darah pada saat itu, dan saat itu juga RSCM sedang kehabisan persediaan darah. Dalam kondisi terdesak, keluarga pasien meminta darah pada penjaga-penjaga ruang jenazah RSCM. Satu kantong darah dihargai tergantung si pihak keluarga pasien berani bayar berapapun, paling mahal Rp 400.000,00. Biasanya dibutuhkan 4-5 kantong untuk operasi satu pasien. Seharusnya, sebulan sekali darah mereka di ambil untuk operasi, tapi bapak Junaedi pernah 2 kali dalam sebulan darahnya diambil dan itu membuat kesehatannya menurun drastis.

Bapak Mi’ing, pria berusia 38 tahun yang sudah 6 tahun bekerja menjadi penjaga ruang jenazah RSCM punya banyak pengalaman yang tidak kalah menarik. Setiap harinya, RSCM bisa kedatangan 5 sampai 6 jenazah. Pernah saja terjadi penumpukan di ruang jenazah RSCM ini karena tidak diketahuinya identitas dan keluarga jenazah, sedangkan hampir setiap harinya ada jenazah yang dibawa ke RSCM. “Disini, yang paling banyak adalah korban tertabrak kereta api. Selain itu, ada korban pembunuhan, mutilasi, korban tenggelam, atau bunuh diri. Kulkas jenazahnya juga kadang-kadang mati. Kalau sudah mati, bau busuknya sampai ke lorong depan”. Saat ini ruang jenazah RSCM sedang direnovasi dan diperluas untuk menghindari penumpukan.

Penghasilan penjaga ruang jenazah RSCM kurang lebih Rp 900.000,00 ditambah uang makan. Selain itu, mereka juga mendapatkan penghasilan dari pihak keluarga jenazah secara pribadi, keluarga jenazah memberikan mereka tip karena sudah merawat jenazah salah satu anggota keluarga tersebut. Dan mereka juga mendapatkan tambahan dari hasil mendonorkan darah.

Jenazah yang dikirim ke RSCM paling banyak adalah korban kecelakaan dan pembunuhan. Dalam sehari, bisa mencapai 5 sampai 6 jenazah yang di masukkan ke RSCM. Biasanya jenazah yang diberi formalin adalah jenazah yang non-muslim untuk dirias terlebih dahulu sebelum dimakamkan. Kalau ada jenazah korban mutilasi maupun tertabrak kereta api yang sudah hancur dan diketahui keluarganya, dijahit oleh petugas yang memang ditugaskan untuk menjahit jenazah. Jika jenazah yang tidak diketahui keluarganya, hanya dimasukkan ke dalam karung dan diletakkan dalam baskom layaknya daging kurban saat Idul Adha.

Jenazah yang baru datang biasanya langsung di identifikasi identitasnya, kemudian pihak RSCM menghubungi polisi untuk mencari pihak keluarga. Setelah itu, jenazah didiamkan dulu di ruang jenazah selama 1x24 jam. Lalu dimasukkan kedalam lemari penyimpanan jenazah jika jenazah tersebut tidak diketahui identitas dan keluarganya. Maksimal mayat berada di RSCM selama 7 hari untuk proses identifikasi. Jika tidak diketahui identitasnya selama 7 hari tersebut, sudah menjadi urusan orang dalam. Baik organnya dijual maupun digunakan oleh dokter untuk praktek. Adapula jenazah yang diotopsi, biayanya antara 5-10 juta. Untuk pengambilan jenazah oleh keluarga, dikenakan biaya perawatan selama di RSCM sekitar Rp 400.000,00. Tetapi mereka tidak memberatkan pihak keluarga jenazah, seperti kasus korban bunuh diri di Masjid Istiqlal bulan lalu yang berasal dari keluarga tidak mampu di Lampung, keluarga dari jenazah itu hanya memberikan Rp 100.000,00 saja dan pihak rumah sakit tidak mempermasalahkannya. Tetapi untuk biaya pengiriman ke daerah asal ditanggung oleh Pemda setempat.

Selain itu, banyak wartawan yang sering mengunjungi ruang jenazah RSCM ini. Para wartawan bahkan sudah bekerja sama dengan RSCM untuk mendapatkan berita terbaru seputar kriminalitas. Mereka akan di hubungi oleh pihak RSCM jika ada kejadian terbaru, dari situ pihak RSCM bisa mendapatkan penghasilan juga.

Tim Liputan :

  1. Alfaria Jeidy A : Pemimpin Redaksi
  2. Agni Proborini : Fotografer
  3. Gilda Nurfitriyani : Reporter
  4. Sally : Reporter
  5. Rita Prameswari : Sekretaris

0 comments:

Post a Comment